Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Misteri Mitos "45 Kurang Satu" di DPRD Blora: Ketika Takdir Berbenturan dengan Kepercayaan Publik

Minggu, 05 Juli 2026 | Juli 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-07T03:52:30Z


BLORA — Sebuah mitos yang telah mengakar di masyarakat Blora kembali mencuat ke permukaan. Keyakinan bahwa jumlah anggota DPRD Blora yang berjumlah 45 orang selalu "harus berkurang satu" menjadi perbincangan hangat setelah serangkaian musibah menimpa sejumlah anggota dewan dan pegawai DPRD dalam beberapa waktu terakhir.


Masyarakat mulai bertanya-tanya dan mengaitkan setiap kejadian duka dengan angka keramat tersebut. Namun, di balik hiruk-pikuk pembicaraan publik, Wakil Ketua DPRD Blora, Siswanto, dengan tegas membantah dan menolak mempercayai mitos yang dianggapnya tidak berdasar itu.


Siswanto menjelaskan bahwa sebagai umat beragama, khususnya Muslim, dirinya dan jajaran DPRD Blora meyakini seluruh perjalanan hidup manusia sepenuhnya merupakan ketetapan Allah SWT.


"Manusia hanya bisa berikhtiar, berusaha, dan berdoa. Kehidupan, rezeki, keluarga, hingga kematian adalah kehendak Allah," ujar Siswanto dengan nada tegas. Sabtu (4/7/2026)


Ia juga mengungkapkan bahwa informasi mengenai mitos tersebut memang kerap terdengar di masyarakat, namun pihaknya tidak pernah menjadikannya sebagai sebuah keyakinan.


"Informasi itu memang sering kami dengar. Tetapi kami tidak memahami secara utuh asal-usulnya. Kami tetap berpegang bahwa umur, rezeki, dan ajal seseorang adalah ketentuan Allah SWT," tegasnya.


Untuk meredam spekulasi yang berkembang, Siswanto meluruskan tujuan digelarnya kegiatan ruwatan di bulan Muharram. Menurutnya, kegiatan tersebut bukanlah respons terhadap mitos, melainkan tradisi doa bersama yang sudah rutin dilaksanakan.


"Ini sebenarnya kegiatan rutin. Hanya saja tahun ini dikemas lebih besar dengan pagelaran wayang sehingga terlihat lebih meriah. Tidak hanya bulan Muharram, pada bulan-bulan lain kami juga rutin menggelar doa bersama," jelasnya.


Ia menambahkan bahwa tradisi Suran dalam budaya Jawa memang identik dengan doa dan refleksi spiritual. Bahkan, doa bersama juga kerap dilakukan menjelang pelantikan anggota DPRD setiap lima tahun sekali.


Siswanto mengajak masyarakat untuk tidak mengaitkan musibah yang dialami dengan mitos yang belum tentu kebenarannya. Ia justru mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan rekan-rekan yang telah berpulang.


"Kami mengajak seluruh masyarakat mendoakan rekan-rekan yang telah berpulang agar husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," ucapnya.


Melalui doa bersama dan ruwatan tersebut, Siswanto berharap seluruh anggota DPRD, jajaran Pemerintah Kabupaten Blora, dan masyarakat diberikan kesehatan, keselamatan, kelancaran rezeki, serta dijauhkan dari berbagai musibah.


"Semoga Blora tetap aman, tenteram, seluruh penyelenggara pemerintahan dan masyarakat selalu diberikan kesehatan serta keberkahan dalam menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari," pungkasnya.


Di tengah percampuran antara kepercayaan tradisional dan keyakinan agama, mitos "45 kurang satu" di DPRD Blora menjadi pengingat bahwa manusia senantiasa mencari makna di balik setiap kejadian—bahkan ketika jawaban akhirnya tetap berada di tangan Sang Pencipta.

×
Berita Terbaru Update